Rabu, 30 September 2015
jadilah pemimpin kluarga yang bijaksana
BIDUK rumah tangga bak bahtera yang berlayar di tengah lautan. Lautan tentu tak selamanya tenang dan nyaman, kadang kala harus menghadapi badai, ombak, angin kencang, atau cuaca yang tidak bersahabat. Itulah mengapa dalam Islam suami dinobatkan sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin (imam) bagi keluarganya.
Bahkan tanggung jawab seorang imam keluarga tidak saja terbatas di dunia semata, tetapi berlanjut hingga ke akhirat. Di sini para suami sangat penting mengetahui bagaimana menjadi imam yang baik bagi keluarganya.
Lebih dari Istri
Lebih di sini tiada lain adalah lebih dalam segala sifat positif. Seperti lebih ikhlas, lebih sabar, lebih dewasa, dan lebih yang lainnya. Kompetisi dalam hal ini sangat-sangat positif. Seperti kompetisi antara Abu Bakar dan Umar dalam hal amal shaleh.
Hal ini tiada lain karena seorang suami telah menjadi tumpuan, harapan, dan masa depan istri serta anak-anaknya. Suami adalah kekayaan paling nyata bagi seorang istri. Selain itu, masa depan suami juga ditentukan oleh baik tidaknya keluarga yang dipimpinnya.
Oleh karena itu, tidak patut seorang suami tidak menghargai, tidak menghormati dan tidak memuliakan istrinya. Suami harus mampu memuliakan istrinya, menasehati sekaligus membimbingnnya agar tidak keliru dalam kehidupan.
Namun demikian, ada cara yang mesti ditaati oleh para suami dalam menasehati, membimbing atau pun membina istrinya. Hal ini karena wanita adalah sosok perasa, mungkin ada yang sangat sensitif, sehingga perlu seni dan kehati-hatian dalam membimbing mereka.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Nasehatilah para wanita dengan baik, sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (laki-laki) sebelah kanan, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya, maka seandainya engkau berusaha meluruskannya, niscaya dia akan patah dan kalau engkau biarkan, ia akan tetap bengkok. Nasehatilah para wanita dengan baik.” (HR. Bukhari Muslim).
Bijaksana
Kebijaksanaan seorang suami itu hanya bisa diwujudkan manakala dirinya memang lebih dari istri. Dengan kata lain, seorang suami harus lebih peduli, lebih peka, dan lebih memahami mana yang terbaik bagi istri dan keluarganya sesuai dengan tuntunan syari’ah-Nya.
Kebijaksanaan akan menjadikan suami lebih tepat dalam mengambil keputusan, lebih arif dalam perkataan dan lebih hati-hati dalam menjaga perasaan istri, sehingga tidak mudah terbawa emosi manakala dirinya melihat ada kekurangan atau pun kesalahan dari sang istri.
Hal ini tidak lain karena dibalik kekurangan atau sesuatu yang dianggap kurang dari istri pasti tetap ada sisi lain yang menjadi keunggulan seorang istri. Itulah mengapa Rasulullah mengingatkan para suami agar tidak terjebak emosi dan buta mata hati ketika melihat kesalahan atau kekurangan seorang istri.
Beliau bersabda, “Tidaklah seorang mukmin marah kepada wanita yang beriman, jika dia membenci darinya satu sifat, dia akan menyukainya karena sifatnya yang lain.” (HR. Muslim).
Maka dari itu, sudah seharsunya bagi suami untuk mengingat-ingat kebaikan dan kelebihan istrinya. Menimbang-nimbang apa yang tidak disukainya dengan hal yang disukai. Dengan begitu, Insya Allah, dia akan menemukan kebaikan yang sangat besar. Dan, kebaikan besar tidak akan dimiliki kecuali oleh pemimpin yang bijaksana.
wallahu'alam bish showab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar